Perpaduan Kesalehan Individu dan Sosial akan Ciptakan Harmoni

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Perpaduan kesalehan individu dan sosial akan menciptakan harmoni dalam masyarakat beragama. Setiap orang memiliki pemahaman yang berbeda-beda tentang Islam. Sehingga untuk menciptakan Islam yang moderat harus ada dialog yang berdasarkan nilai-nilai fundamental Islam.

Hal tersebut diungkapkan Dr Inayah Rohmaniyah, SAg, MHum, MA, Dekan Fakultas Ushuluddin & Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga pada ‘Pembukaan & Orientasi Umum Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Angkatan V,’ secara Daring, Sabtu (3/4/2021). SPI Universitas Islam Indonesia (UII) ini diikuti 126 orang dari berbagai profesi. Sedang Orientasi Umum disampaikan Edi Safitri, SAg, MSI, Direktur Pusat Studi Islam (PSI) UII.

SPI yang mengangkat tema ‘Moderasi Islam untuk Generasi Milenial’ ini diselenggarakan PSI UII bekerjasama dengan Prodi IAI Program Magister FIAI UII, Prodi Hukum Islam Program Doktor FIAI UII, Fakultas Ilmu Agama Islam UII. Selain itu, juga mendapat dukungan dari PUSHAM UII, Pusat Studi Lingkungan UII, Fakultas Agama Islam UAD, dan STAI Terpadu Yogyakarta.

Lebih lanjut Inayah mengatakan sebagai agen harmoni harus ada integritas untuk mempertemukan kesalehan individu dan kesalehan sosial. “Kalau kita belum memiliki keyakinkan membangun Islam yang moderat, tidak bisa. Kalau masih berkeyakinan pokoknya Islam juga tidak bisa. Orang mempunyai pemahaman yang berbeda-beda, sehingga untuk menciptakan Islam yang moderat harus berdialog. Ukurannya, nilai-nilai fundamental Islam,” kata Inayah.

Dijelaskan Inayah, untuk bisa sampai pada moderasi beragama, apalagi obyeknya generasi milenial, mau tidak mau harus berangkat dari pemahaman secara komprehensif tentang agama Islam. “Jangan dikira ketika kita menggunakan Islam, ya Islam. Pokoknya jangan bertanya ikuti saja. Itu pemahaman yang sesat tentang Islam,” kata Inayah.

Bicara Islam, jelas Inayah, sebenarnya banyak dimensi yang harus dipahami dan perlu disosialisasikan kepada masyarakat. Sehingga masyarakat paham mengapa wajahnya berbeda-beda. Ada tiga dimensi saat berbicara menggunakan terminologi Islam. Pertama, dimensi keyakinan atau normatif (keyakinan). Kedua, dimensi teks atau historis (ada Alquran, Hadist dsb). Ketiga, dimensi empiris (Islam yang ada di masyarakat).

“Itu tiga ruang dimensi yang berbeda dan orang sering lupa. Sehingga tidak membeda-bedakan dan memahami secara substansial ada tiga wilayah yang harus dipahami supaya dapat memhami mengapa orang berbeda,” kata Inayah.

Dimensi normatif, kata Inayah, ada Rukun Islam, Rukun Iman dan nilai-nilai fundamental Islam. Aliran apapun pasti setuju dengan nilai-nilai fundamental Islam. Tidak peduli itu kelompok radikal, kelompok agno. Sekarang anak muda sudah masuk kelompok Agno (tidak percaya keberadaan Tuhan. Dia muslim, tetapi tidak melaksanakan ajaran Islam). “Ägno ini sudah menjadi tren anak milenial,” katanya.

Menurut Inayah, kelompok Agno percaya pada nilai-nilai fundamental Islam yaitu nilai-nilai mendasar yang menjadi ciri sebagai muslim. Pertama, rahmatan lil alamin. Kedua, tauhid atau prinsip kesatuan. Ketiga, pluralitas atau keberagaman. Keempat, anti penghinaan/mencela. Kelima, keadilan. Keenam, penghormatan. Ketujuh, moderat. Kedelapan, anti kekerasan, Kesembilan, anti pengrusakan. Kesepuluh, musyawarah. Kesebelas, kesetaraan.

Sedang, dimensi teks atau historis, kata Inayah, berbeda dengan dimensi keyakinan. Perintah Tuhan bertumpu pada teks. Karena kita bukan nabi yang bisa berbicara langsung dengan Tuhan. Sehingga teks menjadi mediator untuk memahami agama Islam.

“Teks punya obyektivitas sendiri. Beda dengan wahyu. Kalau sudah masuk dalam teks pasti masuk ke dunia yang manusiawi. Banyak problem yang muncul dalam memahami teks,” katanya.

Dalam memahami teks akan ditemui banyak problema. Di antaranya, lingkaran hermeneutika (teks, konteks, dan pembaca); teks bersifat polysemic (terbuka, tergantung pada pembaca); pemegang otoritas; proses naturalisasi/obyektivikasi pemahaman terhadap tek; serta pemahaman sebagai alat justifikasi.

Sementara dimensi living Islam atau empiris lebih rumit lagi. Indonesia memiliki aliran Sunni (NU, Muhammadiyah, Ikhwanul Muslimin, Salafi, wahabi. Sehingga memunculkan Muslim Progresif, Muslim Konservatif, Radikal, Liberal dan Agno. “Intepretasi teks ini memunculkan konstruksi praktek dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Idealnya, kata Inayah, masyarakat harus bisa menghubungan Islam Normatif dan Islam Tekstual. Sehingga di dalam living atau kehidupan sehari-hari bisa membangun harmoni. “Di tingkat individu, terserah Anda mau NU, Muhammadiyah atau Agno untuk mencapai kesalehan. Tetapi saat sudah masuk ranah masyarakat harus berpegang pada nilai-nilai fundamental Islam. Idealnya, nilai-nilai fundamental Islam itu ada pada tingkat individual,” katanya.

Sedang Edi Safitri, dalam orientasi umum menyampaikan bahwa SPI nenawarkan perspektif dan metodologi yang rahmatan lil ‘alamamin. Sehingga pengetahuan yang diperoleh dari SPI dapat menjadi bahan dalam bersikap dan tidak asal seruduk.

“SPI Angkatan V ini ada penambahan kelas, yaitu kelas Islam & Lingkungan, Islam & HAM, Islam & Psikologi Kepribadian, dan yang terakhir Islam & Sains,” kata Edi.

Sementara Kepala Sekolah Pemikiran Islam (SPI), Januariansyah Arfaizar, SHI, ME mengatakan Angkatan V ada peningkatan peserta dibandingkan dengan angkatan sebelumnya. “Peserta angkatan sebelumnya ada 115 orang, kini 126 peserta. Tingkat minat masing-masing kelas sama. Tertinggi kelas Islam dan Gender,” kata Januriansyah.

About The Author

Reply