‘Resiliensi di Tengah Turbulensi’ Strategi UII di Masa Pandemi

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta terapkan strategi ‘Resiliensi di Tengah Turbulensi’ dalam menghadapi masa pandemi Covid-19 agar tetap survive. Sedang program kerjanya, cermat bertahan, sehat berbenah dan pesat bertumbuh.

Rektor UII, Prof Fathul Wahid, ST, MSc, PhD mengungkapkan hal tersebut pada Rapat Terbuka Senat Milad ke 78 UII yang dilaksanakan secara luar dan dalam jaringan, Jumat (12/3/2021). Sedang pidato ilmiah disampaikan Prof Dr apt Yandi Syukri, SSi, MSi, dengan judul ‘Pengobatan Islam dan Peran Nanomedicine dalam Pengembangan Tanaman Obat yang Disebutkan dalam Alquran dan Hadist untuk Memerangi Covid-19.’

Lebih lanjut Rektor UII mengharapkan strategi ini dapat menumbuhkan
kesadaran kolektif civitas bahwa saat ini situasi tidak sedang baik-baik saja, dan membutuhan perubahan pola pikir serta tindakan bersama. “Pola pikir normal seringkali tidak gayut karena kenyataan tidak sesuai dengan asumsi,” kata Fathul Wahid.

Dijelaskan Fathul Wahid, resiliensi merupakan kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi yang sulit. Sedang turbulensi merupakan simbol dari situasi yang sulit.

“Turbulensi terjadi ketika elemen-elemen dalam sebuah sistem bergerak tidak dalam kecepatan yang sama. Istilah ini diambil dari ranah dinamika fluida. Di sana ada ketidakteraturan yang tinggi. Sebagai akibatnya, dalam konteks sosial, akan muncul keresahan dan perasaan tidak nyaman lainnya. Pandemi yang tak kunjung usai dan perubahan mendadak merupakan contoh situasi turbulensi,” kata Fathul.

Ketika turbulensi terjadi, jelas Fathul, beragam strategi perlu diambil dan dieksekusi dalam waktu yang singkat. “Waktu menjadi barang mewah. Pola pikir normal nampaknya tidak bisa menyelesaikan ketika kenyataan berbeda dengan asumsi. Perlu ada ruang toleransi yang dibuat. Manajemen ekspektasi pun perlu dijadikan upaya kolektif,” katanya.

Sementara Prof Yandi Syukri, Guru Besar Jurusan Farmasi, Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UII mengatakan UII Nanopharmacy Research Centre telah mengembangkan Nanoherbal untuk pengobatan Covid-19. Penelitian yang dilaksanakan sejak awal tahun 2015, kini mulai fokus untuk mengembangkan produk obat dari bahan alam menjadi nanopartikel atau yang dikenal sebagai Nanoherbal.

“Ada tiga platform teknologi nanopartikel yang dikembangkan yaitu: (1) Self-Nano Emulsifying Drug Delivery System (SNEDDS); (2) Nanopartikel Logam; dan (3) Polymeric Nanoparticle,” kata Yandi.

SNEDSS, jelas Yandi, merupakan salah satu teknik untuk meningkatkan kelarutan dan ketersediaan hayati obat di dalam tubuh sehingga akan mengoptimalkan efek terapinya. Sebagian besar dari ekstrak tanaman dan isolatnya sukar larut dalam air.

Nanopartikel logam, ujar Yandi, telah banyak diteliti karena keunikan sifatnya yang dapat diaplikasikan dalam bidang kedokteran dan farmasi. Nanopartikel logam dari perak sangat potensial digunakan sebagai antibakteri sedangkan nanopartikel emas sangat bermanfaat untuk antiosidan.

Polimerik nanopartikel sangat bermanfaat untuk sistem penghantaran obat yang tertarget dan terkontrol menuju lokasi aksinya di dalam tubuh. Esktrak bawang putih dan pegagan juga telah dicoba dikembangkan dengan teknik polimerik nanopartikel ini.

Menurut Yandi, integrasi Sains-Islam merupakan salah satu program yang telah dikembangkan UII. Salah satu tujuannya untuk kembali mengenang kejayaan Islam sebagaimana terjadi pada masa-masa kejayaan ilmuwan Islam.

“Kejayaan masa lalu dapat dijadikan sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik menghadapi masa depan. Integrasi Sains-Islam juga dapat dijadikan untuk menghilangkan dikotomi antara agama dengan sains. Menjadikan Alquran sebagai sumber inspirasi dalam pembelajaran dapat dijadikan sebagai payung pengetahuan atau sumber inspirasi ilmu pengetahuan,” katanya.

About The Author

Reply