Rektor UII : Wisudawan Jangan Lupa Bahagia

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Prof Fathul Wahid, ST, MSc, PhD, Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) mengharapkan di masa pandemi Covid-19 agar wisudawan tidak lupa bahagia. Sebab perasaan bahagia akan menyuntikkan semangat dan menambah imunitas tubuh.

Rektor UII mengungkapkan hal tersebut pada Wisuda Doktor, Magister, Sarjana, dan Diploma Periode II dan III Tahun Akademik 2020/2021, di Gedung Olahraga Ki Bagoes Hadikoesoemo UII, Sabtu (27/2). Wisuda yang dilakukan Luring (luar jaringan) dan Daring (dalam jaringan) ini diikuti 701 lulusan, terdiri dari 23 ahli madia, 555 sarjana, 117 magister, dan enam doktor.

Secara Luring, wisuda dihadiri 13 pimpinan universitas dan fakultas bersama 36 orang lulusan yang merupakan perwakilan dari masing-masing program studi (Prodi). Sebelum mengikuti wisuda Luring, para peserta telah menjalani rapid test/swab antigen. Mereka juga diwajibkan berada di Kota Yogyakarta seminggu sebelum wisuda serta tidak bepergian ke luar kota.

Sedang peserta prosesi wisuda secara Daring sebanyak 665 wisudawan/wisudawati. Untuk mengikuti prosesi wisuda, UII juga menyiarkan wisuda ini melalui kanal YouTube UII dengan tautan: http://uii.id/livewisudaUII.

Lebih lanjut Rektor UI mengatakan di suasana yang menantang harus menghentikan ratapan dan diganti dengan harapan. “Memang pandemi menjadi musibah bersama, tetapi mari kita bersama mencari makna di dalamnya untuk mendapatkan berkah tersamar,” kata Fathul Wahid.

Sebuah penelitian, kata Fathul, menemukan suasana emosi negatif, seperti marah, frustasi, dan stres, akan menurunkan imunitas tubuh. Karena itu selingan humor sehat dalam kadar yang pas untuk menjaga emosi positif akan sangat bermanfaat di tempat kerja dan juga di tempat interaksi sosial lainnya.

Menurut Fathul, selain meningkatkan imunitas, perasaan bahagia bisa jadi sebagai pengingat diri yang sudah lama tidak bersyukur atas segala nikmat yang diperoleh. Padahal rasa bahagia itu ada di dekat setiap manusia. “Untuk mendapatkan rasa bahagia, dengan mengeluarkannya dari hati kita, dengan menambah rasa bersyukur,” katanya.

Rumus ini, kata Fathul, insyaallah tidak hanya berlaku ketika pandemi, tetapi untuk sepanjang hidup. Fathul mengharapkan pesan sederhana ini, selalu diingat wisudawan, meski sudah berkiprah di luar kampus.

“Tentu, ketika Saudara berkarya nanti, yang dibutuhkan tidak hanya tersenyum dan tertawa bersama. Namun ada banyak keterampilan hidup lain, terutama di saat menantang seperti ini. Di antaranya, pola pikir untuk terus bertumbuh, pembelajaran sepanjang hayat, pemikiran kritis, bertahan hidup, resiliensi, fleksibilitas, dedikasi, perasaan nyaman berhadapan dengan ambiguitas, pola pikir pendampingan, sampai dengan perasaan nyaman dengan lingkungan virtual,” katanya.

About The Author

Reply