Rektor UII : Mendokumentasikan Pemikiran adalah Kerja Peradaban

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Mendokumentasikan pemikiran dalam bentuk tulisan merupakan kerja peradaban dan kerja menuju keabadian. Sebab pemikiran yang dituangkan dalam bentuk buku dapat diakses lebih lama dan oleh masyarakat luas.

Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Prof Fathul Wahid ST, MSc, PhD mengemukakan hal tersebut pada Bedah Buku ‘Fikih dan Pranata Sosial di Indonesia, Refleksi Pemikiran Ulama Cendekia’ karya KH Ahmad Azhar Basyir MA secara Daring (dalam jaringan), Sabtu (30/1/2021). Buku ini merupakan thesis KH Ahmad Ashar Basyir dalam Bahasa Arab untuk menyelesaikan master di Universitas Darul Ulum di Mesir tahun 1968.

Buku ini diterbitkan Program Studi Doktor Hukum Islam (DHI), Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia (FIAI UII) dan UII Press. Judul asli buku ini Nidhomulmirots fi Indonesia baina al-Urf wa al-Syariah al-Islamiyah (ma’a al Muqaranah bima huwa al-Ma’mul bihi fi al-Qanun al-Misri). Tim penerjeman terdiri Dr Yusdani MAg, Dr Sofwan Jannah MAg, Fuat Hasanudin Lc, MA, dan Muhammad Najib Asyrof Lc, MAg. Sedang editor, layout dan cover, Maulidi Dhuha Yaum Mubarok SH.

Keynote speech bedah buku, Prof Dr KH Haedar Nashir MA, Ketua PP Muhammadiyah. Sedang pembicara Dr Yusdani, Ketua Prodi DHI UII; Prof Dr H Kamsi MA, UIN Sunan Kalijaga; Dr Abdul Jamil SH, MH, Dekan Fakultas Hukum UII. Sedang moderator Abdulrahman Al Faqih, dosen Fakultas Hukum UII.

Lebih lanjut Fathul Wahid mengatakan KH Ahmad Azhar Basyir merupakan orang besar dengan pemikiran-pemikirannya. Karena itu, dengan bedah buku ini dapat mengambil teladan KH Ahmad Azhar Basyir tentang kesederhanaan dalam hidup, keseriusan mencintai agama dan mengkaji ajarannya, sekaligus mengasah sensitivitas.

Menurut Fathul Wahid, KH Ahmad Azhar Basyir merupakan teladan manusia yang sangat tekun mengkaji ajaran Islam tanpa meninggalkan konteks lokalitas. Selain itu beliau juga mengedepan perspektif luas, kedalaman fikih, serta fakta sosial selalu masuk dalam radarnya dalam mendiskusikan Islam.

“Beliau selalu mengajak kepada pembaharuan pemikiran melalui tajdid dan kontekstualisasi ajaran Islam melalui gerakan ijtihad. Meskipun selalu mengedepankan rasionalitas, tetapi pada saat yang sama menjunjung tinggi ketaatan ajaran Islam,” kata Fathul.

KH Ahmad Azhar Basyir, kata Fathul, sangat akrab dengan literatur Kitab Kuning yang sering digunakan di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Sehingga semasa masih hidup, sering ada gojekan kalau Ashar Basyir adalah orang NU yang dititipkan di Muhammadiyah. “Beliau sering mengenakan peci, yang kala itu sangat jarang dikenakan orang Muhammadiyah,” katanya.

KH Ahmad Azhar Basyir telah menulis 12 buku, tujuh buku di antaranya diterbitkan di UII. Meskipun jarang disebutkan dalam biografinya bahwa beliau juga mengajar di UII. “Menurut saya, tradisi mendokumentasikan pemikiran perlu digalakkan kembali. Saat ini sangat beragam, tidak hanya dalam bentuk buku cetak, tetapi juga digital dan audio visual,” kata Fathul.

Sedang Muhammad Zainul Anam, putra KH Ahmad Azhar Basyir mengatakan ayahnya memiliki hubungan sangat baik dengan tokoh NU, Ali Yafie. Zainul Anam saat mendampingi ayahnya di Mekkah melihat keduanya terlibat diskusi tentang fikih yang dinilainya sangat sensitif.

Selain itu, lanjut Zainul Anam, ayahnya sangat cinta ilmu. Hal ini tampak saat ia bercerita jika melihat Ali Yafie memborong buku di sebuah toko buku. “Bapak langsung mendatangi toko buku untuk membeli buku yang sama dengan yang dibeli Pak Ali Yafie. Dalam konteks ilmu beliau sangat ‘iri’ jika belum membaca buku yang sudah dibaca ilmuwan yang lain. Ini suatu bukti kecintaan beliau terhadap ilmu itu luar biasa,” katanya.

Sementara Haedar Nashir mengatakan dirinya mengenal KH Ahmad Azhar Basyir sejak di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Bahkan Haedar suka mencuri-curi ikut kuliah beliau di UGM. “Saya sebagai mahasiswa ilegal untuk mengikuti kuliah filsafat Islam. Filsafat beliau sangat kuat,” kata Haedar.

KH Ahmad Azhar Basyir, kata Haedar, merupakan sosok ulama yang sesungguhnya, bukan hanya dari keilmuannya, tetapi keteladanan akhlak. “Beliau tokoh yang menjunjung tinggi etika Islam, tutur katanya terukur dan sangat hati-hati serta pembawaannya tenang,” katanya.

About The Author

Reply