Rektor UII : Masa Pandemi Harus Ada Perubahan Bermakna

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Prof Fathul Wahid ST, MSc, PhD mengatakan masa pandemi Covid-19 merupakan waktu untuk refleksi bisnis yang telah dijalani. Selanjutnya, mengambil keputusan dengan cepat, menjalani pilihan dengan penuh komitmen, menjadikannya sebagai proses bisnis sehari-hari dan meningkatkannya di masa datang.

Fathul Wahid mengemukakan hal tersebut saat membuka Growth Festival 2020 secara virtual atau dalam jaringan (Daring), Selasa (17/11/2020). Acara ini digelar Direktorat Pembinaan & Pengembangan Kewirausahaan/Simpul Tumbuh (Growth Hub UII) dan Inkubator Bisnis & Teknologi IBISMA UII.

Acara pembukaan menghadirkan pembicara Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo, MSi. Keynote Speech Session 1 oleh GKR Bendara, Ketua International Council for Small Business Daerah Istimewa Yogyakarta (ICSB DIY). Sedang Keynote Speech Session 2 oleh Dr Ing Ilham Akbar, Dipl.Ing, MBA (Ketua Dewan Pembina The Habibie Center) dan Ir Wiryono Rahardjo, MArch, PhD (Wakil Rektor UII Bidang Networking dan Kewirausahaan).

Lebih lanjut Fathul Wahid mengatakan saat pandemi Covid-19 ini tidak ada pilihan. “Tetapi bukan berarti untuk berpangku tangan. Harapan pandemi segera berakhir ibarat menunggu kepulangan ‘Bang Toyib.’ Tidak tahu kapan dia pulang. Waktu terus berjalan. Sayang bila tidak ada perubahan bermakna yang kita lakukan untuk lompatan ke depan,” kata Fathul.

Saat pandemi Covid-19, kata Fathul, telah meruntuhkan bisnis. Tetapi sebagian lain justru mendapat keuntungan seperti durian runtuh. Pandemi telah membatasi gerak manusia sehingga menguntungkan industri layanan telekomunikasi, internet, ritail, daring, layanan pendukung daring dan obat-obatan.

Salah satu contoh, jelas Fathul, kekayaan Eric Yuan, pendiri sekaligus pemegang saham mayoritas Zoom, kekayaannya naik Rp 169 triliun hanya dalam waktu enam bulan. Kenaikannya Rp 10 juta setiap detik.

Sedang bisnis lain yang terdampak pandemi Covid-19 terus berupaya untuk tetap survive. Salah satunya, perusahaan penerbangan membuka bisnis kuliner dan hasilnya luar biasa. Bahkan akan menjadikan waralaba. Demikian pula, Singapore Airline menawarkan pengalaman unik makan di dalam pesawat yang terparkir di landasan. “Bisnis mereka masih penerbangan, tetapi mereka melakukan penyesuaian di banyak hal,” kata Fathul.

Salah satu kunci agar bisa survive, kata Fathul, mendesain organisasi, industri agar bisa lebih lincah dan tahan banting. Keputusan yang sudah diambil perlu dikawal secara istikomah, konsisten dan penuh komitmen. Masa pandemi Covid-19 merupakan waktu untuk berbenah model bisnis baru seperti layanan Daring. Sangat mungkin menjadi model permanen menjadi model bisnis masa depan.

“Saya mengajak untuk mengakhiri ratapan pandemi Covid-19. Mari kita semai dan pupuk harapan baru. Pastikan, sesuaikan model bisnis kita agar kembali menggeliat,” kata Fathul.

Growth Festival merupakan kegiatan berskala nasional yang diselenggarakan UII dengan menggandeng beberapa mitra strategis dalam kerangka penta-helix dari ekosistem inovasi dan kewirausahaan di Indonesia. Kegiatan ini juga mendapatkan dukungan internasional dari empat universitas Uni Eropa anggota konsorsium Erasmus+ GITA.

Tujuan utama dari kegiatan Growth Festival adalah mendorong pemanfaatan hasil-hasil penelitian dan invensi di perguruan tinggi. Selain itu, juga menggunakan berbagai macam aktivitas pengembangan kewirausahaan dari sivitas akademika (mahasiswa & dosen) yang kemudian dihilirisasi dan dikomersialisasi demi menyelesaikan berbagai persoalan bangsa melalui inovasi.

Growth Festival 2020 ini diisi berbagai kegiatan, seperti webinar, talkshow, startup demo day & virtual exhibition, startup pitching & business matching. Growth Festival 2020 yang bertajuk Growing an Agile & Resilience Business in Turbulence. Kegiatan ini mendapat dukungan berbagai mitra strategis UII seperti ICSB, Dewan TIK Nasional, The Habibie Center, CAST Foundation, Dinas Koperasi & UMKM DIY, KADIN DIY, mitra industri seperti Gojek, Tokopedia, Amazon Web Services, MarkPlus Institute.

About The Author

Reply