UAJY Bantu Pengolahan Kopi Gapoktan Sejahtera Cangkringan

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) membantu pengolahan kopi kepada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sejahtera Desa Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan petani untuk penanganan pascapanen kopi dan kesejahteraan mereka.

Tim Pengabdian Masyarakat UAJY terdiri dari Dr.rer.nat. Yuliana Reni Swasti, STP, MP (Ketua dan Dosen Prodi Biologi), LM Ekawati Purwijantiningsih, SSi, MSi (Dosen Prodi Biologi) dan Dinar Gumilang Jati, ST, MEng (Dosen Prodi Teknik Sipil). Mereka mendapat dana hibah dari Kementerian Riset Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti)/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 2020.

Dijelaskan Reni Swasti, saat ini, antusiasme masyarakat terhadap kopi sangat tinggi. Ini merupakan peluang besar bagi para petani kopi untuk meningkatkan taraf ekonomi dan kualitas produk kopi. “Salah satu kendala yang dihadapi oleh petani kopi adalah penanganan pascapanen,” kata Reni di Yogyakarta, Kamis (13/8/2020).

Mereka memilih Gapoktan Sejahtera Cangkringan sebagai tempat pengabdian masyarakatnya. Gapoktan Sejahtera mengelola kebun kopi dengan luas sekitar 21.400 m2 di lereng Gunung Merapi. Para petani menanam kopi menggunakan pupuk organik.

Mereka tidak hanya menanam kopi, tetapi juga mengolah produk kopi sendiri untuk dijual kepada masyarakat. Hasil panen kopi bisa mencapai 1.500 kg/bulan pada saat masa puncak panen.

“Potensi ini belum didukung dengan penangananan pascapanen yang memadai. Beberapa persoalan penanganan pascapanen yang ditemukan antara lain waktu pemanenan, cara fermentasi, proses pengeringan, penyangraian, dan cara pengemasan,” jelas Reni.

Dalam pengabdian masyarakat, kata Reni, Tim Pengabdian UAJY memberikan pelatihan pengolahan pascapanen, membangun green house (tempat pengeringan biji kopi) dan membantu penyedian alat penyangrai. Pengabdian pada masyarakat ini dilaksanakan sejak 8 Juni 2020 dan masih berlangsung hingga sekarang.

Dijelaskan Reni, pelatihan pengolahan pasca panen yaitu penyangraian kopi. Pelatihan ini dilaksanakan empat kali secara Daring dan satu kali secara tatap muka dengan tetap menaati protokol kesehatan.

Selama ini, kata Reni, proses penyangraian hanya menggunakan wajan. Proses pengolahan semacam ini menjadikan volume biji kopi tidak dapat mengembang dan cita rasa kopi juga tidak terbentuk. Tim memberikan mesin penyangrai yang baru dengan kapasitas satu kilogram. Dengan mesin penyangrai yang baru ini, volume biji kopi bisa membesar, cita rasa kopi menjadi terbentuk, dan warna yang dihasilkan menjadi lebih seragam.

Selain penyangraian, Tim UAJY juga memperbaiki green house. Pembangunan green house baru yang lebih luas dengan ukuran 9m x 5,6m x 3m menggantikan green house yang lama yang kurang memadai dan sempit.

Green house yang lama terbuat dari bambu dan masih beralaskan tanah. Kondisinya sangat memprihatinkan karena ditemukan banyak bubuk bambu. Tempat pengeringan kopi juga terbuat dari anyaman bambu. Kelemahan green house yang lama adalah kualitas sirkulasi udara yang merupakan salah satu komponen penting di dalam pengeringan kopi.

Kerangka green house yang baru dibangun dengan menggunakan galvanis dan baja ringan. Tempat pengeringan yang baru terbuat dari baja ringan dan green house ditutup dengan plastik anti UV 14.

“Selama ini, petani sering mengabaikan proses pengeringan. Sebenarnya salah satu kunci untuk menghasilkan kopi dengan cita rasa yang baik adalah menjaga kualitas proses pengeringan,” jelas Reni.

Green house yang baru dirancang agar proses pengeringan menjadi lebih higienis, sirkulasi udara menjadi lebih baik, kelembaban udara terjaga, dan suhu udara yang ideal untuk proses pengeringan dapat terjaga dengan baik. Green house yang baru dilengkapi dengan alat pendeteksi suhu dan kelembaban.

“Melalui pengabdian ini kami berharap kualitas kopi meningkat dan ekonomi masyarakat meningkat. Sehingga dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat dan anggota kelompok tani,” harap Reni. (*)

About The Author

Reply