Teliti Pabrik Natrium Nitrat, Audrey dan Silvi Sandang Sarjana Teknik

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Audrey Athaya Galuh Kinanti dan Silvi Nursukma Indri, Mahasiswi Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII) Yogyakarta meraih gelar Sarjana Teknik. Mahasiswi angkatan 2016 ini menyusun skripsi dengan meneliti Pra Rancangan Pabrik Natrium Nitrat dari Asam Nitrat dan Natrium Hidroksida kapasitas 40.000 ton/tahun.

Selasa (9/7/2020), mereka menempuh ujian pendadaran secara online dengan dosen penguji Prof Ir Zainus Salimin, MSi, Ir Agus Taufiq, MSc dan Dyah Retno Sawitri, ST, MEng. Mereka dinyatakan lulus oleh dosen penguji dan berhak menyandang gelar Sarjana Teknik (ST).

Dijelaskan Audrey dan Silvi, rancangan pabrik tersebut akan didirikan di kawasan industri Cilegon Banten dengan menempati tanah seluas 58.049 m2 dan memiliki karyawan sebanyak 300 orang. “Pembangunan industri kimia yang menghasilkan produk antara ini sangat penting, karena dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap industri luar negeri. Hal ini pada akhirnya dapat mengurangi pengeluaran devisa untuk mengimpor bahan tersebut, termasuk diantaranya natrium nitrat,” kata Audrey.
 

Audrey Athaya Galuh Kinanti (kiri) dan Silvi Nursukma Indri. (foto : istimewa)

Pabrik tersebut akan memproduksi metil laktat dengan dua proses. Reaktor pertama dengan kondisi tekanan 1 atm dan suhu 230 oc, reaktor kedua dengan kondisi tekanan 1 atm dan suhu 180 oc. Kebutuhan utilitas: air secara kontinyu sebanyak 220.642,8927 kg/jam, steam sebanyak 1.164,0429 kg/jam, air pendingin sebanyak 213.139,2815 kg/jam, air domestik sebanyak 1.474,7627 kg/jam, listrik 354,1540 Kwh dan bahan bakar yang digunakan untuk menggerakkan generator sebesar 196,6509 lt/jam.
 
Audrey menjelaskan analisis ekonomi pabrik ini menunjukkan keuntungan sebelum pajak sebesar Rp 166.245.332.857 per tahun, setelah keuntungan pajak 25% dan zakat 2,5% mencapai Rp 124.683.999.643 per tahun. Return on investment (ROI) sebelum pajak 12,18% dan setelah pajak 9,13%.

Pay Out Time (POT) sebelum pajak 4,96 tahun dan setelah pajak 5,84 tahun. Break Event Point (BEP) sebesar 56.23% dan Shut Down Point (SDP) sebesar 20,28% Discounted Cash Flow (DCF) mencapai 18,07%. “Berdasarkan evaluasi ekonomi, dapat disimpulkan bahwa pra rancangan pabrik metil laktat dengan kapasitas 35.000 ton/tahun layak untuk didirikan,” jelas Audrey.
 
Menurut Adrey, Natrium nitrat (NaNO3) atau dengan nama lain soda niter , nitrate of soda atau Chile saltpeter merupakan kristal bening tidak berwarna dan tidak berbau. Bahan kimia ini mempunyai sifat-sifat diantaranya mudah larut dalam air, gliserol, alkohol, mempunyai titik lebur pada temperatur 380°C. Pada masa kini , kebutuhan natrium nitrat (NaNO3) di Indonesia semakin bertambah sehingga dapat dipastikan semakin lama kebutuhan natrium nitrat akan semakin meningkat seiring dengan banyaknya industri yang menggunakannya.
 
Metil laktat merupakan produk yang digunakan sebagai bahan baku sintesis dalam bidang farmasi, bahan baku parfum (wewangian) dalam bidang kosmetik dan bidang industri sebagai pembersih bahan eletronik, pembersih kaca, pelarut percetakan, pelarut plastik, pelarut cat dan bahan untuk insektisida.
 
Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan adanya peluang ekspor yang masih terbuka, maka dirancang pabrik metil laktat dengan bahan baku gliserol dan methanol dengan kapasitas produksi 35.000 ton per tahun dan direncanakan beroperasi 330 hari per tahun.
 
Bahan baku pembuatan natrium nitrat (NaNO3) adalah natrium hidroksida (NaOH) didapatkan dari PT. Asahimas Subertra Chemica, Cilegon, dan asam nitrat (HNO3) didapatkan dari PT. Multi Nitrotama Mulia, Cikampek. Natrium nitrat (NaNO3) merupakan bahan kimia intermediate dalam pembuatan pupuk yang mengandung senyawa nitrogen, dinamit, pembuatan kalium nitrat, refrigerant, korek api, bahan bakar roket, dan pada masa kini natrium nitrat (NaNO3) banyak digunakan sebagai pengawet bahan makanan olahan.
 
Untuk mengurangi ketergantungan Import maka pendirian pabrik di Indonesia dipandang perlu didirikan untuk memenuhi kebutuhan natrium nitrat (NaNO3) dalam negeri. Keberadaan  pabrik sangat diperlukan dikarenakan produk yang dihasilkan merupakan produk yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.

Sementara Dr Arif Hifayat, ST, MT, Sekretaris Program Studi Teknik Kimia FTI UII mengatakan Audrey dan Silvi merupakan lulusan dengan ujian pendadaran melalui online. Ujian pendadaran dalam jaringan (Daring) atau online ini dilaksanakan karena adanya pandemi Covid-19.

“Pelaksanaan ujian pendadaran Daring kurang lebih sama dengan sidang konvensional. Alhamdulillah, pada periode Juli 2020, terdapat 20 mahasiswa atau 10% angkatan 2016,” kata Arif.

Lebih lanjut Arif mengatakan ujian pendadaran Daring ini merupakan sebuah ikhtiar Prodi Teknik Kimia untukt memotivasi mahasiswa dapat lulus tepat waktu. “Kami berharap mahasiswa dapat menyelesaikan studinya selama kurang dari atau sama dengan empat tahun. Kami juga berharap Audrey dan Silvi menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk segera menyelesaikan studinya,” harap Arif.

About The Author

Reply