FTI UII Dampingi Widodomartani Jadi Desa Eduwisata

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII) mendampingi Desa Widodomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk mewujudkan desa Eduwisata. Salah satu potensi yang segera diwujudkan adalah pemanfaatan kotoran sapi menjadi biogas dan selanjutnya dikonversi menjadi tenaga listrik.

Dijelaskan Setyawan Wahyu Pratomo ST, MT, Dosen Teknik Elektro FTI UII, Desa Widodomartani mempunyai tiga potensi kotoran ternak yang bisa diolah menjadi listrik yaitu puyuh, kambing dan sapi. Namun di antara ketiganya, kotoran sapi memiliki potensi yang paling besar.

“Di sini ada kelompok peternak sapi yang memiliki 80 ekor yang masing-masing sapi rata-rata menghasilkan 30 kilogram kotoran atau total 2.400 kilogram atau 2,4 ton kotoran sapi per hari. Kotoran sapi ini diolah melalui bio digister dan bisa menghasilkan listrik 282 KwH,” kata Setyawan kepada wartawan di kandang sapi Desa Widodomartani, Kamis (13/2/2020).

Lebih lanjut Setyawan mengatakan proses pembuatan listrik dari biogas cukup sederhana. Kotoran sapi dimasukkan ke dalam bio digester agar menghasilkan biogas yang kemudian dikonversi menjadi listrik. Selain listrik, proses ini juga menghasilkan pupuk cair dan pupuk padat. “Pemanfaatan kotoran sapi ini diharapkan bisa memberikan nilai tambah dan meningkatkan taraf ekonomi bagi warga Desa Widodomartani,” harap Setyawan.

Sedang Susilo Widodo, Pembina Eduwisata yang juga Kasi Pelayanan Desa Widodomartani menjelaskan pihaknya sedang mengembangkan wilayahnya sebagai eduwisata. Karena itu, Desa Widodomartani meminta bantuan FTI UII untuk mewujudkanya. “FTI UII akan membantu teknologinya,” kata Susilo.

Lilis Kistriyani, ST, MEng, Dosen Program Studi (Prodi) Teknik Kimia FTI UII mengatakan pendampingan FTI UII terhadap Desa Widodomartani berawal adanya Memoradum of Understanding (MoU) antara Program Studi Teknik Kimia FTI UII dan Universiti Teknologi PETRONAS (UTP) Malaysia tahun 2016. UTP memiliki program MPU4 RISE (Regenerate, Improvise Suistainable Energy) bagi masyarakat pedesaan.

“Pihak UTP akan terlibat dalam desain dan pembiayaan instalasi biogas di eduwisata Widodomartani. Termasuk di dalamnya instalasi biogas dan memberi pelatihan Bahasa Inggris bagi warga agar dapat mempromosikan eduwisata tersebut ke wisatawan asing,” kata Lilis.

Pengolahan biogas, jelas Lilis, tidak lagi menggunakan bio digister tanam, melainkan menggunakan tabung berkapasitas 2.000-4.000 liter. Sehingga bio digister ini bisa dipindah-pindahkan. Wadah ini biasnya digunakan untuk penampungan air yang di letakan di atas atap sehingga banyak tersedia di Indonesia.

“Harapan ke depan, Eduwisata Widodomartani dapat menjadi percontohan integrated farming di wilayah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dan biogas sebagai maskotnya,” tandas Lilis.

Wakil Dekan Bidang Keagamaan, Kemahasiswaan, dan Alumni FTI UII, Dr RM Sisdarmanto Adinandra, ST, MSc, mengatakan pihaknya sudah menjalin kerjasama dengan Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman. Kerjasama ini dimaksudkan untuk mendampingi warga di lima desa Kecamatan Ngemplak untuk mengembangkan potensinya.

Sementara Dekan FTI UII, Prof Dr Ir Hari Purnomo, MT mengatakan pendampingan terhadap Desa Widodomartani ini merupakan pelaksanaan Kampus Merdeka seperti dicanang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim. Saat ini, FTI UII mendapatkan dana hibah 21 proposal dari Kementerian Riset Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Pengabdian masyarakat dari dana hibah tersebut, kata Hari, akan dialokasikan pada lima desa di Kapanewon Ngemplak yaitu Wedomartani, Widodomartani, Umbulmartani, Bimomartani, dan Sindumartani. “Ada tiga tujuan dalam pengabdian masyarakat ini yaitu digitalisasi, hilirisasi produk dan income generating activity (program peningkatan pendapatan masyarakat),” kata Hari.

About The Author

Reply