UII Didirikan untuk Mencipta Pemimpin Masa Depan

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid PhD menandaskan sejak berdiri UII ditujukan untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan. Karena itu, wisudawan harus terus mengasah kualitas diri agar menjadi pemimpin yang mumpuni.

Fathul Wahid mengemukakan hal itu pada wisuda Doktor, Magister, Sarjana dan Diploma Periode II tahun akademiki 2019/2020 di Auditorium Abdul Kahar Mudzakkir Kampus UII km 14 Yogyakarta, Sabtu (28/12/2019). Ada 837 wisudawan yang terdiri tujuh doktor, 127 magister, 684 sarjana dan 19 ahli madya. Hingga saat ini, UII telah menghasilkan lulusan sebanyak 104.023 alumni yang tersebar di berbagai sektor dalam dan luar negeri.

Lebih lanjut Fathul Wahid mengatakan di masa depan, akan berkembang kecerdasan buatan (artificial intellegence) dan internet segala rupa (internet of things). Perkembangan dua hal ini memunculkan banyak pertanyaan dan prediksi.

“Apakah keberadaan kedua hal tersebut mengancam keberadaan manusia sebagai pemimpin? Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Atau pertanyaan lain yang lebih tepat dan optimistik: kualitas seperti apa yang harus dikembangkan untuk menjadi pemimpin masa depan?” tanya Fathul Wahid.

Menurut Fathul, untuk menjadi pemimpin yang berkualitas di masa depan, seseorang harus memiliki dua hal yaitu kreativitas dan kasih sayang. Kreativitas adalah tentang bagaimana melihat sesuatu dari perspektif baru.

“Seseorang dituntut mempunyai kapasitas menghubungkan titik-titik yang dalam pandangan pertama tidak relevan. Titik-titik tersebut dapat berupa pengetahuan, pengalaman, teknologi, konsep, komponen, atau aktor masa lampau yang sudah kita ketahui dan pelajari. Kreativitas tidak berada dalam ruang kosong yang bebas dari masa lalu,” jelas Fathul.

Saat ini, kehidupan masyarakat merupakan pilihan-pilihan dari masa lampau. Kreativitas yang berujung pada inovasi dapat diterima oleh banyak orang akan mempercepat perubahan yang diinginkan di masa depan. “Inilah tugas utama pemimpin membuat perubahan menuju ke arah yang lebih baik,” katanya.

Perubahan permanen tidak mungkin dijalankan sendiri oleh seorang pemimpin. Tetapi pemimpin harus menggerakkan orang lain. Di sinilah diperlukan kemampuan untuk menunjukkan kasih sayang. Pemimpin dituntut mengajak orang lain bergerak bersama.

“Gerak bersama paling indah adalah hal yang dapat dinikmati oleh sebanyak mungkin warga organisasi. Hal ini akan sulit terwujud bila tidak ada atmosfir kasih sayang yang kuat, saling percaya, saling memahami, saling menghormati, dan saling mengapresiasi. Di sinilah diperlukan memimpin dengan hati atau kasih sayang,” katanya.

About The Author

Reply