Lutfi Hasan : Tugas Rektor Bukan Pembagi Tugas

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Ketua Badan Yayasan Badan Wakaf UII, Dr Ir Lutfi Hasan MS menandaskan tugas rektor tidak hanya sekedar membagi-bagi tugas kepada wakilnya. Namun rektor harus memiliki pemikiran yang kuat tentang kebijakannya, sebelum meminta pertimbangan kepada wakil-wakilnya.

Lutfi Hasan mengemukakan hal tersebut pada sambutan pelantikan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid, ST, MSc, PhD di Auditorium Kahar Mudzakkir Kampus UII Jalan Kaliurang km 14,5 Yogyakarta, Jumat (1/6/2018). Fathul Wahid menjabat rektor periode 2018-2022 menggantikan Nandang Sutrisno SH, LLM, MHum PhD.

Lebih lanjut Lutfi Hasan yang pernah menjabat Rektor UII 2002-2006 mengatakan rektor yang betul-betul paham terhadap segala permasalahan yang ada. “Jadi rektor itu harus betul-betul strong. Artinya, kalau rektor menerima masalah, rektor harus mempunyai konsep pemecahan terlebih dahulu. Bukan kalau ada masalah kemudian didisposisikan, kalau ini namanya distributor pekerjaan,” kata Lutfi.

Menurut Lutfi, semua institusi akan menjadi kuat kalau orang nomor satunya kuat. Ia mencontohkan, Malaysia memiliki Mahathir Mohamad, Singapura memiliki Lee Kwan Yew. “Jadi strong leader itu mau tidak mau harus ada di institusi. Saya memiliki harapan pada Rektor UII baru ini,” tandas Lutfi.

Sedang Fathul Wahid dalam pidato perdanya mengungkapkan dirinya mendapatkan amanah di era disrupsi. Salah satu sebabnya, kehadiran dan perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat. Perkembangan ini telah menghadirkan banyak perubahan signifikan dalam dunia pendidikan. Demokratisasi pendidikan yang memberikan akses kepada semakin banyak orang adalah sebuah keniscayaan.

Inovasi radikal, kata Fathul, telah mengubah landskap dunia kerja. Beberapa tahun lalu, misalnya, Google yang akhirnya diikuti banyak perusahaan lain, seperti Apple, IBM, dan Bank of America, menegaskan secara publik bahwa mereka menerima pegawai yang kompeten meski tanpa gelar kesarjanaan. Ini adalah tamparan keras untuk dunia pendidikan, yang dipaksa untuk mendefinisikan ulang perannya.

Namun Fathul melihat era disrupsi merupakan sebuah sunnatullah, sesuatu yang hadir dan tidak dapat dihindari. Pilihannya hanya dua, apakah era disrupsi dipandang sebagai musibah atau berkah.

“Era disrupsi telah mencelikkan mata kita, memantik kesadaran bersama kita untuk bangun, dan melakukan sesuatu yang tidak biasa. Doing busines as usual akan menjadikan kita tertinggal. Kita tidak lagi diberi peluang untuk berada di zona nyaman kita. Dalam bahasa Collins di dalam buku Good to Great, perubahan disruptif ini adalah ‘fakta brutal’ (brutal facts) yang harus kita hadapi,” tandas Fathul.

About The Author

Reply