Lulusan UAA Ditutut Kreatif Ciptakan Lapangan Kerja

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET  — Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) V, Dr Bambang Supriyadi berpesan kepada lulusan Universitas Alma Ata (UAA) agar tidak menambah jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi. Namun lulusan UAA dituntut kreatif agar bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi diri sendiri dan orang lain.

Bambang Supriyadi mengungkapkan hal itu pada Wisuda Ahli Madya, Sarjana dan Sumpah Profesi Universitas Alma Ata (UAA) di Gedung Jogja Expo Center (JEC) Yogyakarta, Kamis (22/3/2018). Ada 178 lulusan UAA yang diwisuda dan 38 meraih perdikat cumlaude. Wisuda dilakukan Rektor UAA, Prof Dr H. Hamam Hadi, M.S., Sc.D., Sp.GK dengan memindahkan kucir dari kiri ke kanan.

Lebih lanjut Bambang mengatakan UAA meluluskan mahasiswa tidak hanya menjadikan orang pinter, tetapi juga beriman, bertaqwa, dan bisa menjaga martabat manusia. “Teknologi kita ikut, teknologi kita kembangkan ke arah positif. Apalagi Universitas Alma Ata tidak hanya mencetak orang pinter, tetapi juga beriman, bertaqwa dan menjaga martabat bangsa Indonesia,” kata Bambang.

Wisudawan dan wisudawati dengan predikat cumlaude pada wisuda UAA di JEC Yogyakarta, Kamis (22/3/2018). (foto : heri purwata)

Bambang juga mengucapkan terima kasih kepada orangtua wali wisudawan dan wisudawati yang telah memilih Yogyakarta sebagai tempat pendidikan anak-anaknya. Padahal di kota orang tua wisudawan/wisudawati ada perguruan tinggi, bahkan pergruan tinggi negeri (PTN). “Tetapi bapak ibu lebih memilih Universitas Alma Ata (UAA) Yogyakarta. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas pilihannya di Universitas Alma Ata,” kata Bambang Supriyadi.

Dijelaskan Bambang, saat ini, UAA sudah memiliki akreditasi institusi B dengan nilai 330. “Dengan akreditasi ini, sudah menjadi modal bagi saudara setelah lulus dan memudahkan saudara mencari pekerjaan,” kata Bambang.

Dijelaskan Bambang, seluruh Indonesia ada sekitar 4.500 perguruan tinggi. Setiap tahun perguruan tinggi meluluskan mahasiswa dan melakukan wisuda. Bahkan ada perguruan tinggi melakukan wisuda enam kali dalam setahun, empat kali, tiga kali, dan sekali.

Namun jika dibandingkan dengan sumber daya manusia (SDM) seluruh Indonesia, secara total lulusan perguruan tinggi belum mendominasi angkatan tenaga kerja. Lulusan perguruan tinggi baru mencapai 12 persen. Sedang selebihnya tenaga kerja berasal dari lulusan SMA (Sekolah Menengah Atas), SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan SD (sekolah Dasar).

Lulusan UAA, pesan Bambang, harus memiliki kinerja yang lebih baik. Sebagai lulusan perguruan tinggi, wisudawan/wisudawati UAA harus berani menjunjung tinggi kebenaran. “Bermodalkan ilmu pengetahuan yang diperoleh maka gunakan ilmu itu, implementasikan ilmu tersebut, terapkan ilmu yang sudah saudara dapat, untuk menyelesaikan berbagai permasalahan, menghadapi siapa saja yang dihadapi, dan menjunjung tinggi kebenaran,” tandas Bambang..

Selain itu, lulusan perguruan tinggi harus berani untuk berperilaku jujur. Sebab tanpa memiliki sikap menjunjung tinggi kebenaran dan jujur, kedepan bangsa Indonesia tidak akan bisa menyelesaikan permasalahan.

Bambang juga mengingatkan saat ini bangsa Indonesia telah memasuki era revolusi industri keempat yaitu digitalisasi. Semua orang menggunakan industri digital. Teknologi informasi berkembang begitu cepatnya. “Ada orang yang menggunakan pada hal-hal positif, tetapi banyak yang menggunakan pada hal negatif. Seperti sekarang ini sedang marak bahkan ada pertikaian antara tokoh-tokoh Indonesia,” kata Bambang.

About The Author

Reply