Rektor UM Magelang: Mahasiswa Bijak Manfaatkan TI

MAGELANG — Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang, Ir Eko Muh Widodo MT mengharapkan agar mahasiswa bijaksana dalam memanfaatkan teknologi informasi (TI). Sebab kemajuan TI telah membawa dampak negatif terhadap generasi milenial, seperti malas beraktivitas.

Rektor UM Magelang mengemukakan hal itu pada pembukaan Kuliah Umum Wawasan Kebangsaan di Auditorium Kampus 1 UM Magelang, Kamis, (11/1/2018). Kuliah umum yang mengusung tema ‘Tantangan Pemuda Indonesia di Era Milenial’ diikuti 750 mahasiwa. Nara sumber kuliah umum Wakil Gubernur Akademi Militer (Akmil) Magelang, Brigjen TNI Wirana Setyabudi, SE.

Lebih lanjut Eko Muh Widodo mengatakan generasi milenial memiliki ciri khas sangat mahir dalam menggunakan teknologi informasi. Generasi ini lebih sering menggantungkan hidupnya pada internet dan penggunaan smartphone. Namun kebiasaan ini memiliki dampak negatif, seperti malas beraktivitas. Karena itu perlu sebuah penanganan yang pasti untuk menghadapi melonjaknya generasi milenial.

Menurut Ketua Panitia Kuliah Umum, Dr Dyah Adrianti SD, SH, M.Hum yang juga Kepala Biro Akademik UM Magelang mengatakan, kuliah umum diadakan untuk membangun rasa nasionalisme mahasiswa UM Magelang yang berkaitan dengan penggunaan informasi di era milenial. Sehingga dampak negatif terhadap generasi millenial bisa diminimalisir.

Sementara Brigjen TNI Wirana Setyabudi mengungkapkan telah terjadi perang informasi di dunia maya. Ada lima perang informasi yang dapat merusak penggunanya. Pertama, perang informasi dengan menghancurkan alat komunikasi. Kedua, perang informasi dengan penyadapan informasi secara ilegal. Ketiga, dengan perusakan media informasinya. Keempat, perang psikologi dengan informasi yang tidak benar dalam smartphone. Kelima, perang informasi dalam bentuk haters (ujaran kebencian) dan virus.

Ia mengingatkan agar generasi milenial mewaspadai perang informasi yaitu perang psikologi dengan informasi yang tidak benar melalui smartphone. “Dewasa ini, informasi di media sosial dapat menjadi alat pemecah belah Pancasila. Kadang beredar informasi yang bersifat provokator, dan langsung saja dipercayai oleh para pembacanya. Bahkan banyak sekali media informasi yang dimanfaatkan oleh teroris, para pemberontak untuk mencuci pikiran masyarakat,” tandasnya.

Wirana memberikan solusi untuk menghadapi perkembangan informasi di era milenial. Di antaranya, menjadi pengguna informasi yang pintar dalam memilah informasi. Generasi millenial harus rajin membaca buku dan media yang terpercaya, sehingga memiliki wawasan yang cukup untuk menganalisa informasi dengan baik.

“Selain itu pendalaman iman menjadi salah satu hal yang harus ditekankan dalam pendidikan untuk menghadapi tantangan generasi milenial,” pungkas Wirana.

About The Author

Reply