Indonesia Kekurangan Tenaga Ahli Teknik Sipil

YOGYAKARTA — Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Nandang Sutrisno,SH.M Hum,LLM,PhD menandaskan Indonesia merupakan negara yang kaya akan bencana. Tahun 2017, telah terjadi sebanyak 1.089 bencana di berbagai daerah Indonesia. Namun ironisnya, Indonesia masih kekurangan tenaga teknik sipil yang bisa mengatasi bencana secara sistemik.

“Bencana ini tidak bisa dihadapi dengan aksi yang hanya bertujuan untuk penanganan sesaat, menyelesaikan kasus per kasus. Melainkan butuh penyelesaikan secara sistemik dan sistematis,” kata Nandang Sutrisno saat membuka Program Doktor Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII, Selasa (23/5/2017).

Lebih lanjut Nandang mengatakan untuk menghadapi bencana dibutuhkan tenaga ahli salah satunya teknik sipil. Berdasarkan data dari Kemenristekdikti, Indonesia membutuhkan 90.500 tenaga ahli teknik sipil. Namun saat ini baru ada 75 ribu tenaga ahli teknik sipil. “Sehingga masih ada kekurangan tenaga ahli yang cukup banyak. Pembukaan Program Doktor ini dimaksudkan untuk memenuhi kekurangan tenaga ahli,” kata Nandang.

Menurut Ketua Program Doktor Teknik Sipil, Prof Widodo Pawirodikromo PhD megatakan Teknik Sipil memiliki peran yang besar di dalam mengurangi resiko bencana, khususnya yang berhubungan dengan fisik. Terutama infrastruktur untuk mendukung tersedianya energi, pangan, air bersih, udara bersih, pengolah limbah, dan sejenisnya.

“Mengingat kebutuhan mendesak dan penting maka diperlukan metode atau teknik yang lebih baik, lebih canggih, lebih cepat, lebih efisien, lebih berdaya guna baik dalam tahapan analisis, desain, pelaksnaan, evaluasi maupun tindak lanjut yang salah satunya melalui pendidiak strata tertinggi yaitu program doktor,” kata Widodo.

Saat ini, ujar Widodo, jumlah doktor setiap satu juta penduduk Indonesia masih sangat rendah. Jumlah doktor tiap satu juta penduduk Indonesia baru mencapai 143 orang, sedangkan di Malaysia sudah mencapai 609 orang (empat kali lebih banyak dari Indonesia). India 1.410, Jerman 3.990, Perancis 5.136, Jepang 6.438, dan USA 9.850.

“Berdasarkan data tersebut sudah seharusnya semua pihak berpartisipasi untuk mengejar ketertinggalan termasuk Jurusan/Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII),” katanya.

Saat ini, Jurusan Teknik Sipil memiliki tiga orang profesor, dan 14 doktor tekni sipil baik lulusa luar negeri maupun dalam negeri. Usulan Program Doktor Teknik Sipil (PDTS) FTSP UIItelah mendapatkan persetujuan dari Menteri Riset Teknologi Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) dengan Surat Keputusan (SK) Nomor: 126/KPT/I/2017, tanggal 7 Februari 2017.

Penulis : Heri Purwata

About The Author

Reply