SDM Kelapa Sawit Perlu Ditingkatkan

win-rektorr

Rektor Instiper Yogyakarta, Dr Purwadi (kanan) dan Win Alamsyah di Two Days Roundtable Meeting di Kampus Instiper Yogyakarta, Rabu (7/12/2016). (foto : heri purwata)

YOGYAKARTA — Sumber Daya Manusia (SDM) perkebunan kelapa sawit, saat ini, belum memiliki kemampuan yang memadahi sehingga perlu ada peningkatan kapasitas. Kapasitas yang rendah dapat berpengaruh terhadap produktivitas kelapa sawit.

Demikian diungkapkan Win Alamsyah, Areal Manajer Ekonomi PT London Sumatra Indonesia Tbk, pada Two Days Roundtable Meeting di Kampus Institut Pertanian (Instiper) Maguwoharjo, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (7/12/2016). Pertemuan dua hari ini dihadiri sejumlah alumni, pengusaha kelapa sawit, dan civitas Instiper Yogyakarta.

Lebih lanjut Win mengatakan selama ini para petani kelapa sawit dalam memilih bibit berasal kelapa sawit yang jatuh di tanah atau istilahnya ‘sapuan.’ Bibit sapuan ini tidak bisa menghasilkan kelapa sawit dengan kualitas yang baik.

“Investasi kelapa sawit ini selama 25 tahun. Kalau bibitnya tidak baik tentu selama 25 tahun hasilnya hanya sekitar 3-4 ton per hektare. Padahal kalau penanamannya menggunakan bibit yang bagus bisa menghasilkan antara 6-7 ton per hektarenya,” kata Win.

Menurut Win, untuk mengatasi masalah ini pemerintah daerah harus turun tangan. Di antaranya, dinas pertanian dan perkebunan memberikan penyuluhan-penyuluhan terhadap petani yang ada di wilayahnya.

Win juga mengapresiasi Instiper Yogyakarta yang memprakarsaib Two Days Roundtable Meeting yang menghadirkan bupati-bupati yang wilayahnya memiliki kebun kelapa sawit. Yaitu bupati Kutai Kartanegara, Kotawaringin Barat, Indragiri Hulu, Siak, Muara Bungo dan Kampar. “Ini merupakan salah satu untuk memecahkan masalah tenaga.

 

Salah satu peserta Two Days Roundtable Meeting menjelaskan permasalahan perkebunan kelapa sawit di Kampus Instiper Yogyakarta, Rabu (6/12/2016). (foto : heri purwata)

Salah satu peserta Two Days Roundtable Meeting menjelaskan permasalahan perkebunan kelapa sawit di Kampus Instiper Yogyakarta, Rabu (6/12/2016). (foto : heri purwata)

Sedang Rektor Instiper Yogyakarta, Dr Purwadi MS mengatakan SDM perkebunan sangat menentukan performa manajemen kebun. Planter perlu memiliki kompetensi khusus, karena harus bekerja dengan kondisi sumberdaya yang sebagian uncontrollable.

Perkebunan, kata Purwadi, bisnis berbasis sumberdaya alam yang sangat tergantung kondisi lahan, iklim, dn lingkungan alam lainnya. Sehingga secara teknis untuk mengelolanya perlu fleksibilitas dan harus tegas.

“Pada awal perkembangannya, perkebunan kelapa sawit membutuhkan SDM kompeten yang paham teknis agronomis untuk membudidayakan tanaman kelapa sawit. Mereka harus tahan hidup di daerah remot, dan mampu menyesuaikan kondisi lingkungan,” kata Purwadi.

Saat ini, kata Purwadi, selain memiliki kemampuan teknis agronomis, SDM dituntut dapat kompetensi tata kelola lingkungan alam. Dalam perkembangan selanjutnya ditambah dengan masalah sosial dan regulasi. Sehingga SDM harus memiliki teknis agronomis, lingkungan hidup dan tata kelola sosial.

Ke depan, lanjut Purwadi, pemahaman manajemen perkebunan kelapa sawit akan terjadi revolusi industri. Kalau pada awalnya, manajemen perkebunan kelapa sawit menggunakan pendekatan ‘budidaya tanaman’dalam proses manajemennya, ke depan akan berubah menjadi pendekatan ‘industri biomas.’ “Industri biomas adalah manajemen produksi biomas dengan pendekatan sistem industri, sedang industri berbasis biomas adalah industri berbahan dasar biomas,” katanya.

Revolusi industri perkebunan kelapa sawit, membutuhkan SDM dengan kompetensi baru. “Kompetensi SDM di masa datang, mengarah pada kompetensi teknis agronomis, penguasaan alat mesin, serta teknologi informasi dan komunikasi. Sedang manajemen produksi dengan pendekatan sistem industri biomas mengarah pada precession plantation management untuk menghasilkan produk yang sustainable,” tandasnya.

Penulis : Heri Purwata

About The Author

Reply