Instiper Menuju Leading University Kelapa Sawit

Rektor Instiper Yogyakarta, Dr Purwadi saat membuka One Day Roundtable Meeting, Kamis (17/11/2016). (foto : heri purwata)

Rektor Instiper Yogyakarta, Dr Purwadi saat membuka One Day Roundtable Meeting, Kamis (17/11/2016). (foto : heri purwata)

YOGYAKARTA — Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta bertekad menjadi leading university di bidang perkebunan kelapa sawit dan downstream industrinya. Untuk menghasilkan sarjana yang kompeten Instiper telah bekerjasama dengan sejumlah perusahaan kelapa sawit sejak 10 tahun yang lalu.

Demikian ditandaskan Rektor Instiper Yogyakarta, Dr Ir Purwadi MS saat membuka One Day Roundtable Meeting Issue and Human Resources Supply for Palm Oil Downstrem Industri di Kampus Instiper Yogyakarta, Kamis (17/11/2016). Pertemuan ini dihadiri Direktur Jenderal Industri Agro, Panggah Susanto; Direktur Bioenergi EBTKE Kementerian ESDM, Drs Sudjoko A MM, serta sejumlah perwakilan perusahaan perkebunan mitra Instiper, dosen dan mahasiswa.

Lebih lanjut Purwadi mengatakan Program Studi Teknologi Pengolahan Hasil Perkebunan dalam bidang downstream industri sudah lima tahun dan sudah banyak lulusan yang bekerja di perkebunan. Kurikulum yang diterapkan Instiper agar lulusan memiliki keahlian kerja (job competence) meliputi penguasaan material knowledge, processing technology and engineering, quality management system, dan management and industrial economy.

diskusir

Dr Ida Bagus Banyuro Parta (kanan) saat memandu diskusi Panggah Susanto (tengah) dan Sudjoko Harsono di Kampus Instiper Yogyakarta, Kamis (17/11/2016). (foto: heri purwata)

Untuk menghasilkan sarjana kelapa sawit yang kompeten Instiper sudah bekerjasama dengan sebuah perusahaan swasta selama lima tahun. Downstream industri juga sudah dilakukan 10 tahun yang lalu dengan perusahaan swasta. “Ini sebuah upaya Instiper untuk membangun dan menjadi leading university di bidang perkebunan kelapa sawit dan downstream industrinya,” kata Purwadi.

Sedangkan Panggah Susanto mengungkapkan tahun 2015, lahan perkebunan kelapa sawit ada 11,3 juta hektare dan menghasilkan 32,5 juta ton minyak sawit mentah. Perkebunan kelapa sawit mempekerjakan lebih dari 4 juta tenaga kerja, menghidupi lebih dari 16 juta orang, menyumbang lebih dari Rp 30 triliun pendapatan negara, menciptakan pertumbuhan ekonomi baru di wilayah terluar, tertinggal dan perbatasan negara.

Dijelaskan Panggah, khusus kebijakan pembentukan sumber daya manusia (SDM) industri, pemerintah memfokuskan kebijakan dan langkah operasional berupa pendidikan vokasi dan spesialisasi industri. Seluruh lulusan harus memenuhi standard kompetensi kerja nasional (SKKNI).

Dalam kurun waktu 5-10 tahun terakhir, kata Panggah, industri hilir (newcomer and emerging downstream industry) mengalami perkembangan yang pesat. Akibatnya, mereka kesulitan untuk mendapatkan SDM atau tenaga kerja industri yang kompeten.

“Kami mendapat informasi bahwa terdapat tenaga kerja asing, khususnya dari Malaysia dan India yang dipekerjaka di proyek industri baru. Selain itu, kami juga telah mendengar cerita pembajakan SDM industri hilir berpengalaman antar perusahaan karena keterbatasan SDM instruk khusus hilir kelapa sawit,” tandas Panggah.

Fakta tersebut memperlihatkan peluang pasar SDM industri hilir domestik masih terbuka lebar dengan memperhatikan kualitas, kemampuan, dan kompetensinya. “Kementerian Perindustrian memberikan apresiasi kepada Institut Pertanian Stiper Yogyakarta yang telah memfokuskan diri pada pembentukan SDM khusus industri perkelapasawitan,” katanya.

Panggah mengharapkan agar Instiper menerapkan strategi link and match dalam pembelajaran SDM industri dan tetap mengacu pada SKKNI. “Kami mendorong terciptanya kerjasama dengan pihak industri khususnya dalam program pemagangan untuk meningkatkan kapasitas/kompetensi lulusan Instiper Yogyakarta melalui learning by doing concept, khususnya untuk facit and operational knowledge industry,” tandasnya.

Penulis : Heri Purwata

About The Author

Reply