Mahasiswa UMY Ciptakan Mesin Pelipat Kaos

BANTUL — M Iqbal Nur Fahmi, mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), berhasil menciptakan alat pelipat baju Alat dengan pengontrol sistem elektro pneumatik dan Programmable Logic Controller (PLC) sudah digunakan industri konveksi.

Iqbal mengungkapkan alat ini bisa melipat kaos atau baju sebanyak 1.152 kaos dalam waktu delapan jam. Sedang jika dikerjakan dengan dua tenaga manusia hanya dapat melipat sebanyak 750 kaos.

Dijelaskan Iqbal, alat ini mulai didesain November 2015 lalu. Ia mendapat bimbingan dua dosen Teknik Mesin UMY yakni Wahyudi ST MT dan Bambang Riyanta ST MT. Alat tersebut kini digunakan perusahaan kaos Inteeshirt.

Mahasiswa angkatan 2012 tersebut menceritakan penciptaan alat tersebut diilhami dari perusahaan kaos tersebut. “Selama ini pelipatan baju di Inteeshirt dikerjaan secara manual menggunakan dua tenaga manusia. Dalam satu hari, mereka hanya mampu melipat baju sebanyak 750 buah selama delapan jam kerja, dengan alat bantu kertas karton,” kata Iqbal kepada wartawan di Kampus UMY, Senin (17/10/2016).

Menurut Iqbal, mesin pelipat baju seperti itu sebenarnya sudah diproduksi di luar negeri. Namun harga mesin dan biaya impor tergolong mahal sehingga tidak terjangkau pelaku industri konveksi.

“Karenanya, saya berinovasi membuat mesin dengan biaya yang jauh lebih murah, tetapi hasilnya tetap bagus. Dalam waktu delapan jam kerja, mesin pelipat baju ini bisa menyelesaikan kurang lebih 1.152 baju. Sehingga ada efisiensi sebanyak 60%, dan menghemat biaya kurang lebih Rp 100.548,” jelas Iqbal.

Lebih lanjut Iqbal menjelaskan proses pengerjaan alat pelipat baju ini dilakukan di tempat workshop Inteeshir. Iqbal sebagai desainer dan dibantu dua orang karyawan Inteeshirt. Pembuatan alat ini menghabiskan dana sebesar Rp 22.280.000, yang semuanya didanai oleh perusahaan Inteeshirt. Alat ini sudah diuji cobakan langsung pemilik Inteeshirt dan akan difungsikan akhir tahun 2016 mendatang.

Mesin ini, kata Iqbal bukan berarti akan mengurangi pekerjaan karyawan yang ada sebelumnya. “Sebelumnya ada dua karyawan di bagian pelipatan baju. Ke depan, satu karyawan akan menjadi operator mesin, sedangkan satu orang lainnya sebagai inspeksi hasil akhir produk,” ujar Iqbal.

Selanjutnya, Iqbal berusaha mendapatkan sertifikasi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) atas temuannya tersebut. “Selain mendapatkan HAKI, semoga alat pelipat baju ini bisa diproduksi secara massal di dalam negeri,” harapnya.

Penulis : Heri Purwata

About The Author

Reply