Pemimpin Harus Menciptakan Perubahan Lebih Baik

Ahmad Arifi saat memberi sambutan pada pembukaan  (foto : istimewa)

Ahmad Arifi saat memberi sambutan pada pembukaan kuliah umum di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin (3/10’2016). (foto : istimewa)

YOGYAKARTA — Pemimpin harus bisa menciptakan perubahan ke depan yang lebih baik. Perubahan itu tidak hanya dalam tataran pemikiran atau ide saja, tetapi harus dilaksanakan dengan perbuatan.

“Leadership akan membentuk tarbiyah (pendidikan), kehidupan membutuhkan pendidikan,” kata Prof Dr Wahid Bin Razzaly, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerjasama Antar Bangsa Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM) pada seminar ‘The Role of Educatoinal Leadership In Asean Economic Society (MEA)’ di Convention Hall Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin (3/10/2016).

Seminar ini diselenggarakan Program Studi (Prodi) Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Seminar ini dimaksudkan untuk menambah wawasan mahasiswa menghadapi masa depan.

Lebih lanjut Wahid Bin Razzaly mengatakan Association South East Asia Nation (ASEAN) memerlukan masa depan yang berkelanjutan. Karena itu, dibutuhkan bagaimana cara untuk menanamkan kepercayaan dan minat. Pendidikan adalah suatu kekuatan untuk membentuk nilai dan karakter. Karakter tidak boleh untuk dibunuh atau dijual. “Sebagai academic leadership harus memiliki empat poin yaitu service, research, practice, serta teach,” kata Wahid.

Menurut Wahid, ada empat faktor yang menjadi penentu kemajuan suatu negara. Penguasaan inovasi memiliki bobot 45 persen, penguasaan jaringan/networking memiliki bobot 25 persen, penguasaan teknologi bobotnya 20 persen, dan kekayaan sumber daya alam hanya memiliki 10 persen. “Pendidikan di Indonesia harus lebih menekankan pada tiga kemampuan yaitu inovasi, jaringan, dan teknologi,” kata Wahid.

Sedang Prof Dr Abdul Munir Mulkan SU, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga mengatakan mahasiswa MPI dilatih dan dididik untuk menjadi pemimpin dalam bidang pendidikan. Kompetensi utama dari lulusan MPI adalah pendidik yang juga memiliki peran sebagai manajer. “Harus bisa mengembangkan potensi yang ada di lembaga pendidikan” kata Munir.

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Dr Ahmad Arifin, MAg memberikan menyambut baik Prodi Manajemen Pendidikan Islam yang telah menyelenggarakan kuliah umum tersebut. Ia mengharapkan setelah ada seminar dan kuliah umum ini ditindaklanjuti dengan kerjasama.

Sementara Wakil Rektor III Dr H Waryono MAg dalam sambutan pembukaan seminar mengatakan membentuk jaringan pendidikan sangat penting di era globalisasi. Karena itu, pihaknya mengharapkan agar terjalin jaringan yang lebih baik. “Membangun kerjasama antara UTHM dan UIN untuk secara umum dalam kaitannya dengan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,” katanya.

Penulis : Heri Purwata

About The Author

Reply